Arti, Kandungan serta Tafsir Ayat Kursi Dengan Ringkas

Kandungan Ayat Kursi – Pustaka Imam asy-Syafi’iAyat Kursi yang mulia serta penuh barokah ini terdiri atas sepuluh penggal kalimat. Di dalamnya terdapat tauhidullah, pengagungan terhadap-Nya dan keterangan juga akan keesaan-Nya dalam kesempurnaan serta kebesaran, hingga juga akan melahirkan penjagaan serta kecukupan untuk yang membacanya. Didalam ayat kursi bacaan ini ada lima Asma’ul Husna, juga ada lebih dari dua puluh sifat Allah, didahului dengan mengatakan kemahaesaan Allah dalam peribadatan serta bathilnya melaksanakan ibadah pada selain-Nya, lalu dijelaskan mengenai kemahahidupan Allah yang prima yg tidak disertai dengan kesirnaan.

Dijelaskan juga di dalamnya kalau Allah yaitu al-Qayyuum, yakni Dia berdiri dengan sendiri, tidak memerlukan makhluk-Nya serta selalu mengatur semua masalah makhluk-Nya. Diluar itu, juga mengenai kemahasucian Allah dari semua sifat yang kurang, seperti mengantuk serta tidur, tentang luasnya kerajaan-Nya. Sebenarnya semuanya yang berada di langit serta bumi yaitu hamba-Nya, ada dibawah kekuasaan serta ketentuan-Nya. Dia juga mengatakan kalau diantara bukti-bukti keagungan-Nya adalah mustahil untuk seseorang juga dari makhluk-Nya untuk berikan syafaat di sisi-Nya terkecuali sesudah memperoleh izin dari-Nya.

Di dalamnya ada penetapan

sifat pengetahuan untuk Allah, ilmu-Nya mencakup semua yang di ketahui, Dia ketahui yang sudah berlangsung, yang juga akan berlangsung serta apa yang belum juga berlangsung, demikian halnya bila suatu hal itu berlangsung bakal jadi apa bentuk serta rupanya. Di dalamnya juga dijelaskan mengenai kemahabesaran Allah dengan mengatakan kebesaran makhluk-Nya. Bila Kursi yang disebut satu diantara makhluk-Nya mencakup langit serta bumi, jadi bagaimana dengan Sang Pencipta yang Mahaagung serta Rabb Yang Mahabesar?

Di dalamnya juga ada keterangan mengenai kesempurnaan kekuasaan-Nya. Diantara bentuk kesempurnaan kekuasaan-Nya yaitu tidak memberatkan-Nya penjagaan pada langit serta bumi. Lalu ayat ini ditutup dengan mengatakan dua nama Allah yang agung, yakni al-‘Aly serta al-‘Azhiim. Di dalamnya memiliki kandungan penetapan juga akan kemahatinggian Allah, baik Dzat serta kekuasaan-Nya, juga penetapan kemahabesaran-Nya, dengan mengimani kalau Dia mempunyai semua arti kebesaran serta keagungan, tak ada seseorang juga yang memiliki hak atas pengagungan serta pemuliaan terkecuali Dia.

Berikut kandungan global dari Ayat Kursi. Ayat yang agung ini memiliki kandungan bebrapa arti agung serta bukti-bukti mendalam dan rambu-rambu keimanan yang tunjukkan kebesaran serta keagungan-Nya.

Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya berkata, “Ayat yang mulia ini yaitu ayat al-Qur’an yang paling agung serta yang paling penting. Hal semacam ini karena kandungannya yang berisi perkara-perkara yang agung serta sifat-sifat yang mulia. Oleh karenanya, banyak hadits yang menyarankan untuk membacanya serta membuatnya jadi wirid harian untuk manusia pada beberapa saat yang dijalaninya, baik pagi ataupun petang, juga saat mendekati tidur serta sesudah menunaikan shalat lima saat.

Allah memberitakan mengenai diri-Nya yang mulia kalau Dia ‘Laa ilaaha illa huwa’. Tujuannya tidak ada ilah (yang memiliki hak diibadahi) terkecuali Dia. Dialah hanya satu ilah yang memiliki hak diibadahi, yang mengharuskan tertujunya semua bentuk peribadatan, ketaatan serta penyembahan cuma kepada-Nya. Ini karna kesempurnaan-Nya serta kesempurnaan sifat-Nya dan karna besarnya nikmat-Nya. Selain itu, keharusan makhluk yaitu jadi hamba-Nya, mengaplikasikan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Semua sembahan terkecuali Allah yaitu bathil, melaksanakan ibadah pada terkecuali Dia juga bathil. Ini dikarenakan semua suatu hal terkecuali Allah yaitu makhluk yang mempunyai sifat-sifat yang kurang, ditata, serta memerlukan yang beda dalam semua sisi. Oleh karena itu, makhluk tidak memiliki hak sedikitpun untuk diibadahi. Mengenai firman-Nya ‘Al-Hayyul Qayyuum’, dua nama mulia ini tunjukkan pada semua asma’ul husna dengan muthabaqah (adekusi), tadhammun (inklusi) serta luzum (konsekwensi). Sifat al-Hayyu Yang Mahahidup tunjukkan pada Dzat yang mempunyai sifat hidup yang prima, yang meliputi semuanya sifat-sifat Dzat seperti Maha Mendengar, maha Lihat, Maha Berilmu, Mahakuasa serta seumpamanya.

Al-Qayyuum Yang Maha Berdiri dengan sendiri, Dialah yang tegak dengan kesendirian-Nya serta Yang Menegakkan yang beda. Sifat ini meliputi semua perbuatan yang ditangani oleh Rabbul Alamin, seperti istiwaa (bersemayam), nuzul (turun ke langit bumi pada sepertiga malam terakhir*), kalam (Berfirman), mencipta, berikan rizki, menghidupkan serta mematikan, serta semua bentuk penyusunan. Semuanya tercakup dalam asma-Nya, al-Qayyuum. Oleh karenanya beberapa ulama berkata, “Dua nama ini yaitu asma Allah yang paling agung. Bila di panggil dengan mengatakan asma ini, pasti Dia juga akan menjawab apabila memohon dengan mengatakan nama-Nya ini, pasti Dia juga akan berikan. ”

Diantara bentuk kesempurnaan sifat hidup serta berdiri sendiri-Nya ini adalah Dia tidak tersentuh oleh kantuk serta tidur. Milik-Nyalah semua yang berada di langit serta di bumi. Dialah yang mempunyai, sedang selain-Nya yaitu yang dipunyai. Dialah Yang Maha Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Pengatur, sedang selain-Nya yaitu di ciptakan, di beri rizki serta ditata.

Mereka tidak mempunyai sedikit juga, meskipun cuma sebesar dzarrah (biji sawi), suatu hal yang ada di langit ataupun di bumi, baik untuk diri mereka sendiri ataupun untuk orang yang lain.

Oleh karenanya, Allah berfirman, “Siapakah yang bisa berikan syafaat di bagian Allah tanpa ada izin-Nya? ” Tujuannya tak ada seseorang juga yang bisa memberi syafaat di sisi-Nya tanpa ada izin dari-Nya. Syafaat itu semuanya cuma punya Allah semata. Walau demikian, bila Allah berkehendak untuk merahmati siapa juga yang diinginkan-Nya, Dia juga akan mengizinkan pada salah seseorang yang dimuliakan-Nya untuk memberi syafaat padanya. Seseorang pemberi syafaat akan tidak berani mulai berikan syafaat tanpa ada izin dari-Nya.

Lalu Allah berfirman, “Dia Maha Ketahui apa yang ada dihadapan mereka, ” yakni semua suatu hal yang sudah berlalu, “dan apa yang ada di belakang mereka, ” yakni apa yang juga akan berlangsung. Pengetahuan Allah mencakup semua perkara dengan detil, yang permulaan serta yang terakhir, yang terlihat serta yang tersembunyi, yang ghaib ataupun yang riil. Mengenai hamba, mereka tidak mempunyai hak sedikitpun untuk mengurusi hal semacam ini serta tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun, terkecuali apa yang sudah Allah sampaikan pada mereka.

Oleh karenanya Allah berfirman, “…dan mereka tidak ketahui apa-apa dari pengetahuan Allah tetapi apa yang diinginkan-Nya. Kursi Allah mencakup langit serta bumi…” Ini tunjukkan kesempurnaan keagungan-Nya serta luasnya kekuasaan-Nya. Kursi-Nya saja demikian besar yakni mencakup langit serta bumi, sesaat keduanya ini begitu besar serta begitu banyak juga penghuni keduanya. Kursi tidaklah makhluk Allah yang paling besar, bahkan juga masih tetap ada sekali lagi yang semakin besar darinya, yakni ‘Arsy dan yang lain yang tak ada yang ketahuinya terkecuali Allah. Kebesaran makhluk-makhluk itu buat akal fikiran jadi bingung serta masing-masing pandangan jadi tumpul, gunung-gunung bergerak, serta beberapa orang pintar terangguk-angguk.

Bagaimana bila ditempatkan dengan penciptanya? Yang memasukkan pada penciptaannya hikmah serta rahasia yang diinginkan-Nya. Yang menahan langit serta bumi supaya tidak bergerak dengan tanpa ada terasa capek serta letih. Oleh karenanya Dia berfirman, “…dan Dia tidak terasa berat dalam melindungi keduanya, serta Dia Mahatinggi…” dengan Dzat-Nya Dia bersemayam diatas ‘Arsy, yang Mahatinggi dengan kekuasaan-Nya pada semua makhluk, Yang Mahatinggi dengan kekuasaan-Nya karna kesempurnaan sifat-Nya. Mahabesar hingga jadi kecil serta sepele kedaulatan beberapa diktator bila ditempatkan dengan kebesaran kekuasaan-Nya, kesombongan raja-raja yang congkak jadi kecil di samping keagungan-Nya. Mahasuci Dzat yang mempunyai kebesaran yang Agung nan tidak ada tara, Yang menundukkan serta kuasai semua suatu hal. ” Tafsir as-Sa’di hal. 110

Kelebihan Shalat Hajat serta Dhuha

Dalam makna yang cukup simpel, pengertian shalat dapat disimpulkan seperti berikut : Shalat yaitu beribadah yang diawali dengan takbir serta disudahi dengan salam. Tidak kecuali apakah shalat harus (duhur, asar, maghrib, isya’ serta subuh) atau shalat sunnah yang disarankan oleh Rasulullah seperti shalat sunnah istikharah, sholat tahajjud, sholat hajat, sholat dhuha dan sebagainya.

Saat seorang juga akan melakukan shalat, jadi diharuskan terlebih dulu untuk ambil wudlu’. Dalam satu kitab dijelaskan kalau wudlu’ yaitu nur – al wudlhuu nur – (sinar). Orang yang usai ambil wudlu’ juga akan mempunyai aura, muka yang berseri-seri dihadapan Allah baik didunia atau di akhirat demikian halnya juga akan terlihat di mata manusia.

Mengapa seorang yang juga akan melakukan shalat diharuskan untuk ambil wudlu’ terutama duhulu? Karna shalat adalah terminal raga serta keperluan jiwa manusia untuk menuju Sang Khaliq. Shalat yaitu adalah sinar yang berkilauan dalam hati orang yang beriman, yang pancarkan cahaya pada berwajah serta tercermin dalam tingkah dalam kehidupan keseharian. Shalat jadi alat komunikasi segera pada seseorang hamba dengan Allah. Jadi begitu pas sekali bila seorang juga akan minta suatu hal apa sajakah, lebih persisnya dengan lakukan shalat. Shalat harus atau sunnah.

Dalam logika kita, bila dalam pandangan Tuhan telah ada pada tempat yang mulia (maqamam mahmudah), dengan automatis di mata manusia derajatnya semakin lebih mulia. Dapat kita tilik sebagian prestasi yang sudah diraih oleh beberapa orang yang berusaha untuk menunjukkan janji Allah yang dalam Al-Qur’an. Yaitu Prof Muhammad Saleh dengan bukunya Therapy Tahajjud atau bukunya penulis buku ini yang Berjudul Mukjizat Tahajjud serta Subuh serta banyak contoh-contoh beda yang berhasil lewat therapy lewat shalat.

Seperti yang kita kenali dengan, kalau manusia memiliki bebrapa keperluan, serta bebrapa keperluan itu tidak (sempat) ada habisnya. Bahkan juga sehari-hari keperluan seorang makin bertambah serta tidak dapat dihentikan, terkecuali oleh kematian. Oleh sebab tersebut saat kita memerlukan sesutau, shalat disini juga akan memerankannya. Jadi kerjakanlah shalat-shalat sunnah (tanpa ada mesti tidak pedulikan kecintaannya pada shalat fardu yang lima saat) seperti yang disarankan oleh Nabi Muhammad SAW.

Umpamanya saat seorang bingung dalam pilih suatu hal untuk dikerjakan –ada dua pilihan keduanya sama jadi pilihan– seperti ingin lamar pekerjaan, pilih jodoh, atau yang lain-lainnya, jadi disarankan untuk shalat istikhara ; memohon pada Allah untuk diperlihatkan mana yang paling baik. Lalu terasa Anda berbuat banyak dosa, banyak lakukan hal yang dilarang oleh agama –selama kekeliruan yang diperbuat tak ada hubungannya dengan sesama manusia– jadi shalatlah taubat ; minta ampunan pada Allah atas semua dosa yang diperbuatnya. Ada pula saat mereka terserang musibah yang berbentuk kesusahan dalam peroleh makanan dikarenakan oleh kekeringan dikarenakan oleh lamanya tak ada hujan, jadi kerjakanlah shalat istisqa’ ; minta pada Allah cucuran air hujan dari langit untuk membasahi bumi.

Mukjizat Dhuha

Bila kita amati di sekitar kita, tiap-tiap pagi tiap-tiap orang didunia disibukkan dengan usaha, kesibukan serta masalahnya semasing. Tak tahu itu bekerja di kantor yang jadi pegawai, ngajar disekolah yang berprofesi jadi guru, mencari penungpang yang jadi sopir atau becak, mencari berita untuk yang jadi wartawan, menaiki perahu untuk yang nelayan serta pergi kesawah sembari membawa cangkul untuk yang pekerjaannya hidupnya jadi petani, ada yang ke pasar, ke took serta beda sebagainya. Semuanya yaitu pekerjaan yang baik karna ingin bekerja serta berkarya. Karna bila kita baca histori, semuanya beberapa Nabi berusaha keras. Tak ada Nabi yang kerjanya cuma menanti keajaiban rejeki yang datang dari langit. Namun ditengah kesibukannya – sebelumnya mulai usahanya – beberapa utusan Allah itu lakukan permintaan pada Allah untuk dilancarkan usahanya. Seperti lakukan shalat dhuha atau yang lain.

Saat dhuha yaitu saat yang penuh dengan fadhilah, terlebih untuk memulai kesibukan, baik yang berbentuk duniawi (usaha) atau yang berbentuk ukhrawi. Mengapa dimaksud saat yang penuh fadilah? Karna waktu itu manusia repot dengan usuhanya sendiri-sendiri serta kadang-kadang lupa juga akan Tuhannya, kelihatannya yang mereka kerjakan yaitu hasil jerih usuhanya sendiri. Mereka banyak yang lupa kalau rejeki yang ia peroleh yaitu datang serta adalah anugerah (memberian) dari Allah.

Hingga sekarang ini, shalat dhuha di kenal banyaknya orang jadi satu diantara shalat untuk memperlancar rejeki serta dapat perpanjang usia. Banyak orang yang berhasil didunia ini yang keluar dari (madrasah) shalat dhuha serta shalat sunnah beda seperti tahajjud. Karna Rasulullah menyarankan untuk pengikutnya sebelumnya beraktivitas seharus shalat dhuha terlebih dulu. Shalat dhuha jadi pintu awal untuk keberhasilan seorang dalam aktivitasnya. Karna dhuha adalah media untuk minta suatu hal pada Sang Rahman serta Sang Rahim.

Buku ini perlu di baca karna juga akan banyak menolong beberapa pembaca dalam lakukan revolusi mendasar pada tiap-tiap diri, keluarga serta orang-orang biasanya. Selamat membaca!